HIKAYAT MESIN ATMSenangnya…
Beberapa temanku tersenyum padaku pada saat kami berpapasan dengan mereka. Mereka selalu berkata mereka iri dengan kemesraan kami, tentu saja. Kami adalah pasangan paling di inginkan oleh seluruh orang di dunia, selalu manis bergandengan tangan dimanapun kami berada, bahkan di mesin ATM. Kami mempunyai banyak kebiasaan yang menarik di mata orang lain, seperti kesiangan bersama, bolos bersama, main plesetan kata-kata, apapun yang bisa bikin kami nyengir.
Mesin ATM masih kosong saat itu, tak ada seorangpun yang berdiri mengantri disana, kami masuk dan keluar dengan kecewa karena uang yang terdapat di rekeningku tak bisa diambil, karena melewati limit yang seharusnya. Hari itu kami libur kuliah, matahari masih bersinar, malah makin cerah saat itu. Makin membuat punggungku terasa di cakar-cakar oleh monster.
Pentagon tetap ramai seperti biasa, banyak anak-anak bahasa yang berpakaian sangat rapi bercengkrama, besenda gurau dan bercanda ria menunggu saatnya kuliah mereka di mulai, kontras dengan kami yang selalu menunggu jarum pada jam dinding yang terpasang di ruang tamuku untuk berputar kearah yang sebetulnya bisa dianggap merugikan kami.
Telat adalah kebiasaan kami sehari-hari. Mungkin itu hanya kesenangan sesaat saja, karena rasanya menyenangkan apabila aku tepat pada waktunya sampai di kelas ketika jarum jam telah melewati angka yang seharusnya kami telah duduk menguap di barisan belakang kursi-kursi chitose yang biasanya penuh dengan coretan atau gambar-gambar seniman jenuh yang terlahir ketika kelas benar-benar membosankan.
Hari yang indah, berjalan menuju kearah kontrakanku dengan perasaan ringan, masih dengan jalan yang sama, walaupun tanpa kerumunan seperti tadi, tetapi tergantikan oleh kerumunan pedagang-pedagang dijalan sempit itu. Dan lagu-lagu yang terasa risih kalau didengarkan di siang se-terik itu…
-ROGUE-